Senin, 26 Agustus 2013

Syair-sayir Asmara Setia Ningrum.

Ujung Pandangku...

Dari mata senja ku, aku berani mengucapakan cinta yang kau isyaratkan pada sebilah cahaya terang diatas langit sana, bukan kah ini kalimat paling romantic  yang pernah kamu tulis diatas lembaran daun” rinduku?

Sekiarnya cinta yang ku miliki telah habis, maka habis pula nafas yang ku punya dalam dunia,, dan sekiranya mata ini tak lagi dapat melihat ragamu, maka kupastikan jika kamu adalah yang terakhir ku lihat dalam ujung pandangku,,seperti Senja.

Kumpulan Syair Asmara Setia Ningrum

KEMBALI MENULIS PUISI 

Angin boleh menghapusnya, atau gelap boleh membuatnya hilang oleh awan…tetapi syair itu telah utuh mengaris pada buku-bukuku.

Semua boleh bilang syair ini tak bermakna lagi, tapi senja lebih tahu tentang aku juga puisi-puisi ini, mereka dan mungkin kau boleh tertawa saat membaca huruf-huruf yang ku tulis, tapi tidak untuk Tuhan, setiap hariku tak pernah alfa menulis puisi-puisi untuknya, hanya agr Dia tahu bahwa aku ingin tetap hidup dalam syair-syairku.
(Asmara)

Asmara Setia Ningrum RA=>Syair Sang penyair

 SANG PENYAIR BERKACAMATA

Dan selagi aku masih masih bias melihat langit-langit itu dengan mata ku ,maka tak perlu kurisau kan tentang bagaimana cara agar aku bias melihatmu, menyentuhmu sekalipun bukan dengan  tangan ku, tapi lewat tangan-tangan angin yang bergerak menyapamu disudut ruang sana …..,,,
Kadang kupikir tak ada yang lebih indah dari sekedar  mencoret –coret buku  nie dengan rasa yang ku tuang dalam syair ,,tapi ter nyata aku keliru .
Karena duduk diatas ranting-ranting ini mampu menangkis kerinduan yang kerap malam hadirkan .


Asmara Setia Ningrum RA

Rusia Bercerita

PENYAIR GILA 

Hati ini sudah lamah beku ,butiran-butiran itu sudah mengeras,
Semenjak angin meniupkan ribuan debu ditubuh ini  ...
Siang teresa dekil....
Malam terasa kusut ..
Aku sadar tak mampu berbuat apa-apa’
Kosong...kosong,.....
Yang ada hanya kosong...hampa’
Kini aku pasrahkan ,,,,,
Semua kpada Allah..
BY: Rusia

(penyair Gila)

Rusia Bercerita

BIASA

Kita rakyat biasa.
Kita rakyat biasa menjerit …biasa tak ada yang mendengar biasalah,,,,.
Kita rakyat biasa tak ada suarapun kataya, yang diatas bilang biasa…
Kita rakyat biasa menangis, menderita, melarat, gila, setres, 44 macam menjadi gila itu masih dikatakan biasa,,
Maka kadang rayat biasa ini terdiam….wlwpun yng diatas jatuh melarat ,,,,bahkan tambah kaya kita diam…beralih-alih, menyamar-nyamar jadi ini…jadi itu,,yang diatas menyalahkan wewanang kita tidak tahu…,,,tuhu-tahunya sudah di KPK. masih aja tetap biasa.



Syair Asmara Setia Ninggrum

 Kembali Bersyair


Aku tertawa mengeja detak jantungku yang mulai pilu, mataku mulai terasa linu, menyaksikan derai embun yang telah bercerai dengan pajar…aku terpaut bersama genangan terik yang menyetubuhi hujan, ku tak mampu menta hidup yang semakin runyam tertanam racun mendalam dugaan-dugaan tentang dunia yang kian mengila terpatahkn oleh senyuman dibalik dini ,,,
Aku ingin bertemu denagn sesosok mawar  yg menjelma menjadi melati ,,menjelma anyelir yang menjelma rerumput  yang menjelma hembusan angin dlm percik-percik cinta pada pd tumpukan awan yg menjadi tempat ku berbaring menanti bintang dan mimpi , mesti tak sangup lagi bersandiwara yang mengelabuhi jiwa yang telah kosong tanpa waktu.


Asmara Setia Ningrum RA.

12 Agustus 2013

Kumpulan Puisi Senja (Asmara Setia Ningrum)

MEMILIH WARNA


Untuk kita ,yang terlalu malu wlw sekedar menyapa nya...terlanjur semu marah,dada berdenyut  lebih kencang ,keringat  dingin dijemari ,bahkan sunguhan berpapasan,untuk kita merasa tiadk tampan,tidak cantik, selalu mersa keliru menuntut warna baju dan pilihan celana ,jauh dari kemungkinan mengapai cita” perasaan.
 Untuk kita yng hanya berani menulis kata” dalam buku harian ,memendm persaan lewat puisi “ dan berharap esok lusa, Dia membacanya ...
Smoga datanglah pemahaman baik itu
, bahwa semua perasaan special dengan milik kita ,tidak peduli sesederhana apapun itu....

                                                                                                                                                                                                 Oleh: Asmara Setia Ningrum Ra



Syair Asmara Setia Ningrum RA

SENJA KEEMBALI BERCERITA


Dan tak ada gurat marah..yang dapat kau lihat lagi dari atap langit itu semua seperti hilang bersama perginya senja dan cerita-cerita ini …aku bahkan baru sempat menulisnya hanya pada selembar kertas putih yang lusuh memucat.
Untuk yang tak dapat kusebut , kukirim lewat tangan-tangan tuhan yang kelak kau akan tahu siapa dan apa?

Asmara Setia Ningrum RA.
11 Juli-2013 pukul 17:39:49.


Kumpulan Syair Asmara Setia Ninggrum RA



Senja kembali bercerita

Sesunggguhnya hidup ini hanya sepenggal napas dan waktu yang akan segera berlalu, sedang aku terpacu dengan datangnya kematian .
Asmara setia ningrum.

Mungkin senja itu lebih tahu mengapa ranting-ranting itu yang masih saja bungkam dalam tangis…dan langit masih saja berkeluh tentang rindu, yang tak jua usai